IHSG Melemah Tipis ke Level 6.127 di Akhir Mei, Transaksi Harian Justru Melonjak 30%

IHSG Melemah Tipis ke Level 6.127 di Akhir Mei, Transaksi Harian Justru Melonjak 30%

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup mengalami fluktuasi dengan kecenderungan melemah pada penghujung bulan ini. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan terakhir Mei, tepatnya periode 25 hingga 29 Mei 2026, indeks acuan pasar modal domestik tersebut mencatat penurunan tipis sebesar 0,56% dan parkir di level 6.127,38.

Pelemahan indeks ini utamanya dipicu oleh tekanan jual yang cukup masif dari investor asing (net sell). Para pemodal internasional tampaknya cenderung melakukan aksi ambil untung (profit taking) dan menata ulang portofolio mereka menjelang pergantian bulan.

Kendati IHSG bergerak di zona merah, performa pasar modal Indonesia di akhir Mei ini sejatinya tidak sepenuhnya lesu. Aktivitas perdagangan di lantai bursa justru menunjukkan geliat yang sangat agresif. Hal ini tecermin dari lonjakan rata-rata nilai transaksi harian yang melesat tajam sebesar 30,37%, dengan nilai menembus angka Rp28,38 triliun per hari.

Daya Beli Investor Domestik Masih Kuat

Sejumlah analis pasar modal menilai, meroketnya nilai transaksi harian di tengah koreksi indeks mengindikasikan bahwa daya beli investor, khususnya investor domestik, masih sangat solid. Ketika investor asing menarik dana mereka, investor lokal memanfaatkan momentum penurunan harga saham (buy on weakness) pada sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps).

"Meskipun ada tekanan dari sentimen global yang memicu aksi jual asing, tingginya likuiditas transaksi harian sebesar Rp28,38 triliun ini menunjukkan bahwa pasar saham kita tetap likuid dan memiliki daya lentur yang baik menghadapi fluktuasi," ujar salah satu pengamat pasar modal dalam ulasannya akhir pekan lalu.

Memasuki bulan Juni, para pelaku pasar diproyeksikan akan mencermati sejumlah sentimen baru, mulai dari rilis data inflasi domestik, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan suku bunga bank sentral global. Sinergi volume perdagangan yang tebal di akhir Mei diharapkan dapat menjadi landasan kokoh bagi IHSG untuk kembali beralih ke zona hijau pada awal kuartal kedua ini.